Nama Gadis Itu Anis


2011nov0089Aku mengayuh sepedaku secepat angin ke Lapangan Gondang. Udara musim kemarau di Tulungagung sangat menyengat hari ini. Di saat yang lainnya  menuju pemandian Srabah, aku lebih memilih ke dam Paingan dekat Lapangan Gondang.

Lapangan Gondang sendiri jadi tempat yang nyaman bagiku.

Lama aku mengayuh sepeda. Aku tertarik pada satu sosok yang tampak sedang berusaha meraih cabang pohon dadap di pinggir sungai song. Penasaran, aku menghampirinya.

“Itu garam, kan?” aku bertanya ketika melihat satu bungkusan garam di tangannya yang mungil.

Dia menoleh menghadapku sekilas, lalu kembali ke posisinya semula.

Aku mendadak diam melihat apa yang dilakukannya.

“Kenapa kamu menggantung bungkusan garam ini?” tanyaku heran setelah memastikan apa yang aku lihat itu benar.

“Biar hujan,” jawabnya pendek.

Aku mengerenyitkan dahi, menatap gadis di hadapanku yang sedang menggantungkan bungkusan garam di pohon.

“Kau suka hujan?” aku bertanya heran.

Gadis itu menggeleng. “mboten,” ujarnya sambil berusaha mengikatkan simpul pada pohon itu.

Aku hanya mengamati parasnya. Yang paling membuatku terkesan adalah potongan rambutnya yang dibuat pendek model Yuni shara dengan poni yang lurus menutupi keningnya dan pipinya yang membuatku gemas setengah mati.

“Jadi?”

Gadis itu sepertinya sudah selesai melakukan tugasnya. Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.

Aku menatap gantungan garam yang dipasangnya di pohon itu.

 

*****

 

“Masih memasang itu?”

Aku melihat gadis itu pada hari berikutnya. Ia memakai kaos putih dan celana jeans hitam, berdiri di depan pohon dadap yang sudah meranggas. Kemarin, hari sangat cerah, bahkan cenderung panas. Jadi dapat disimpulkan, gantungan garam-nya tidak berhasil kemarin.

“Seperti yang kau lihat,” ujarnya sambil mengangkat bahu.

Aku lantas mendekat padanya, membantunya mengaitkan boneka itu ke pohon. Ia melirikku sekilas. “Apa salahnya berharap?” ia berkata santai.

“Memang sih. Tapi, harapan kadang membuatmu buta. Tidak berpikir realistis,” sanggahku menjawab pertanyaan darinya.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Aku pun tidak berusaha untuk membuka percakapan.

Suwun mas,” ucapnya.

Aku tersenyum kecil. Dia kemudian duduk di rerumputan memandang sungai yang mengalir dari desa Ngrendeng ke dusun Cabe. Aku pun mengikutinya.

“Buat apa melakukan ini?” aku bertanya sambil mengerenyitkan dahi.

Dia menoleh menatapku. Rambutnya melayang dengan sempurna diterpa embusan angin.

“Melakukan apa?” tanyanya balik sambil mengerlingkan matanya.

“Kau bilang tidak suka hujan, mengapa kau malah ingin hujan turun?”

Sungguh aneh konsep yang ada di kepalaku. Bagaimana bisa orang yang tidak menyukai sesuatu, tapi mengharuskan sesuatu itu hadir.

Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Seperti memikirkan sesuatu.

“Karena…karena hanya setelah hujan aku bisa bahagia,” ujarnya pelan.

Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air yang jatuh dari sudut matanya.

“Maksudmu?”

“Aku harus pergi.” Ia bangkit dari tempatnya duduk, lalu langsung pergi.

Lagi-lagi, aku berujar dalam hati, apa yang membuatnya demikian?

 

***

 

Hari ini, hujan turun rintik-rintik.

Aku mengamati butir-butir air itu dari balik jendela rumahku. Hamparan sawah yang menghijau kini berubah keputihan. Aku tidak suka hujan. Hujan melambatkan semua hal, termasuk waktu.

Mendadak aroma hujan mengingatkanku pada gadis itu. Pastilah saat ini ia sedang tersenyum bahagia melihat gantungan garam­-nya berhasil. Atau, mungkin saat ini ia sedang menari-nari di bawah hujan?

Pikiran-pikiranku tentangnya membayang seiring turunnya hujan. Yang jelas, pastilah ia sedang bahagia sekarang.

Tunggu, mengapa aku memikirkan gadis itu?

 

***

 

Rasa penasaran membawaku kembali ke Lapangan Gondang keesokan harinya. Entah mengapa aku mengharapkan sosok gadis itu datang.

Dan sesuai perkiraanku, gadis itu memang ada. Di tempat yang sama dua hari lalu.

“Mengapa datang lagi?” tanyaku heran. Kemarin hujan, seharusnya ia tidak datang ke sini lagi untuk memasangkan garam itu.

“Kemarin, tidak ada dia,” ujarnya tanpa ekspresi. Ia hanya memandang lurus ke depan.

“Dia?”

Aku semakin tidak mengerti. Dia? Siapa dia? Mendadak, ada yang meledak-ledak di ulu hatiku. Namun entah. Aku tidak bisa mendeskripsikannya.

“Maksudmu?” aku bertanya lagi. Penasaran.

Pernah merasakan ketika kau bertanya sesuatu dan kau mengharapkan jawaban darinya, sementara di sisi lainnya kau malah tidak ingin mendengarnya?

Aku sukar mengatakannya. Tapi yang jelas, begitu keadaanku saat ini.

“Kemarin, tidak ada pelangi.”

Aku merasakan ledakan-ledakan tadi langsung diguyur air hujan

“Kau…, selama ini…hanya pelangi?” Aku berusaha menenangkan perasaanku sendiri.

“Ya, pelangi.”

“Hanya pelangi? Kau mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak kau suka hanya untuk melihat pelangi?”

Dia menatapku tajam.

“Jangan kau pikir segalanya semudah yang kau bayangkan,” bentaknya keras.

Ia mulai bangkit dari tempat kami duduk, lalu beranjak pergi. Aku pun langsung menahannya.

“Kenapa?” tanyaku pelan, merasa bersalah.

Aku membalikkan badannya.

Ia…menangis?

sepurane,” ucapku.

Ia menyapu air mata dari pipinya. “Kau tahu, perempuan itu adalah orang yang paling susah dalam menyembunyikan perasaannya. Dan jika kau berkata kau baik-baik saja, aku tidak melihatnya demikian.” Aku menarik napas panjang. “Kau…kenapa?” tanyaku hati-hati.

Aku mengajaknya kembali duduk

“Mamaku bilang, pelangi adalah jalan menuju surga,” ia membuka ceritanya, “saat kau tidak ada lagi di dunia ini, kau akan menjelma jadi satu dari warna pelangi itu.”

Aku mengangguk paham. Aku pernah dengar tentang mitos itu dari ibuku ketika aku kecil.

“Mamaku bilang, kita bisa menemui orang-orang yang tidak ada itu saat datang pelangi. Dan itu yang sedang aku lakukan sekarang. Aku…sedang berusaha bertemu mamaku.

“Dia?”

“Meninggal, dua minggu lalu. Saat pulang dari pasar. Hujan-hujan. Ia…tertabrak truk.”

“Oh, jadi kamu adalah anaknya Pak Yani yang istrinya kecelakaan itu ya, aku turut sedih”

Aku bisa melihat air mata yang jatuh dari sudut matanya. Refleks, aku menyekanya dengan tangan kananku.

“Maka dari itu…, aku selalu ingin bertemu dengannya lagi. Aku…hanya ingin melihatnya lagi,” ujarnya sesengukkan.

Aku mendekapnya erat, tidak bisa berkata apa-apa. Dalam diam, aku berbicara.

“Menangislah. Buat apa berpura-pura kuat? Menangislah karena memang kau ingin menangis. Itu akan membuatmu lebih baik,” aku berujar sambil mengusap-usap kepalanya.

Dan, ia menangis.

Dan, itu adalah nyanyian paling pilu dalam hidupku.

 

*****

 

Aku memasukkan barang-barangku ke dalam tas sekolah yang kukenakan, lalu mengayuh sepeda ke Lapangan Gondang.

Dia pasti masih di sana.

Pasti.

 

***

 

“Sudah kuduga, kau akan datang kembali ke sini,” aku berujar ketika melihat gadis itu.

Tidak ada yang berubah darinya. Masih tanpa ekspresi. Masih tanpa senyum. Masih…sedih.

“Ayo ikut aku sebentar.” Aku menarik tangannya menuruni Sungai song.

Sensasi dingin langsung menyambar ke kaki kami berdua ketika aliran sungai memecah di kaki.

“Tunggu di sini,” perintahku sambil menunjuk satu tempat di pinggir sungai itu.

Kukeluarkan alat-alat yang sedari tadi ada di tas sekolahku. Pompa air dan kaca.

Aku menaruh kaca di sisi lain sungai. Sinar matahari langsung terpantul mengikuti aliran sungai. Yang kedua, aku ambil pompa angin dari tasku lalu mulai mengisinya dengan air Sungai song.

Semoga berhasil, aku berdoa dalam hati sambil mengarahkan pompa itu ke sinar matahari yang dipantulkan oleh kaca.

Gadis itu menatapku heran, namun aku tidak peduli.

“Kau tahu, aku pernah merasakan kehilangan. Kakekku, beberapa tahun lalu. Aku memang sedih, sungguh. Sama sepertimu.”

Aku kemudian menyemburkan air dari pompa yang ada. Butir-butir air itu langsung saja menimpa sinar matahari, membentuk spektrum-spektrum warna-warni: pelangi.

Ia tampak terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku bisa melihat ia sesenggukan dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku hanya ingin kau tahu, kebahagiaan itu diciptakan. Bukan menunggu dengan sendirinya. Kebahagiaan itu ada dalam diri setiap orang. Bukan bergantung pada hal lainnya,” jelasku panjang lebar.

“Kini, kau tidak perlu menunggu hujan terlebih dahulu, baru kau bisa melihatnya. Kau tidak perlu lagi berpura-pura menunggu hal yang sama sekali tidak kau sukai untuk melihat hal yang kau suka. Kau hanya perlu terbuka, untuk melihat sekelilingmu. Melihat kebahagiaan di sekitarmu.”

“Dan, jika kau sudah bisa melakukan itu, kau akan bahagia,” tutupku.

Aku melihat ia menunduk. Dan perlahan, air mata turun dari pipinya.

Kami berdua membisu. Aku pun menghampirinya.

“Terima kasih sudah membuatku sadar,” ujarnya sambil mengusap air mata di pipinya. Ia kemudian menegakkan kepalanya, lalu tersenyum.

Melihat itu, aku ikut tersenyum. Dadaku mendadak bergetar hebat. Ada perasaan seolah-olah ketika melihat senyumannya, semua hal indah di dunia ini kalah akan kehadirannya. Keindahan yang melebihi seribu pohon dadap yang berjejeran dan berbaris serentak.

“Siapa namamu, kok aku jadi lupa menanyakannya sejak dari  kemarin?” tanyaku gugup. Entah apa yang aku gugupkan. Aku hanya merasa…

gugup.

“Anis Kristianis,” ia menjawab terbatas-bata. Seketika mukanya bersemu merah seperti buah salam yang sekarang semakin langka karena di tebang.

 

Aku tertawa geli melihatnya seperti itu

“Kamu pasti Mas Hari kan anaknya Pak Tomo, yang sekolah di SMP Kauman?” tanyanya balik kepadaku.

“Syukurlah kamu sudah mengenalku.”

“Kau memang seperti kayu besar. Tempat semua orang bersandar.” Ia mengerlingkan matanya yang bulat dan teduh itu.

Kali ini, giliranku yang salah tingkah. Untuk mengisi kekosongan, aku mengambil gantungan garam itu dari tangannya. Ia tampak heran dengan apa yang aku lakukan, namun ia membiarkan.

 

Ia mengerenyitkan dahi. Heran. Namun, aku tetap tidak peduli.

 

“Aku harap besok cerah,” kataku pelan.

Ia tampaknya mendengar apa yang aku ucapkan, lalu tersenyum kecil.

Semoga tidak ada lagi hujan di matanya, aku merapalkan harapan-harapanku.

Setelah membuang gantungan garamnya ke atas pohon, aku berbalik menatap Anis, lalu menggenggam tangannya.

“Anis, besok, maukah kau ikut denganku ke lapangan Gondang?”

Dan begitulah akhirnya setiap minggu ku bonceng Anis dengan sepeda gunungku memutari lapangan Gondang menyusuri jalan di sepanjang pinggiran sungai Song yang membelah desa kami.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s