Balada si Tut-tut


smashDengan badan letih selepas pulang kerja kulangkahkan kaki memasuki rumah. Ah, meskipun hanya sehari sepertinya cukup lama aku meninggalkan orang-orang yang kucintai. Dengan haru yang memenuhi rongga dada, kunikmati setiap langkah rindu.

Namun langkahku terhenti, pandanganku terju pada sebuah motor tua, yang hari ini sedikit membandel. Tadi pagi dengan sekali hentakan si tut-tut, demikian anakku memanggilnya langsung menjerit.Entah dia sedang kesakitan atau bertanda telah siap untuk menembus kemacetan dan asap tebal jalanan di Batam. Tapi hari ini dia benar-benar menyerah, dan berhenti total di kepadatan lalulintas. Beberapa kali kucoba memberi bantuan dengan hentakan-hentakan keras agar jantungnya kembali normal, tapi sia-sia, ah, sudahlah.

Terpaksa ku tinggalkan dia tepi jalan, berhaap tak ada orang yang berminat melihat tubuhmu yang sudah mulai reot, dan tak mulus lagi seperti gadis-gadis belia di Singapore sana yang dengan genitnya memamerkan tubuh mulusnya untuk di nikmati oleh apek-apek yang gatal.

Motor itu sudah tua dan tidak bisa lagi di pacu sebagaimana mestinya. 14 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Sebagai buruh biasa, Aku hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi sekeluarga.
Sejenak, senyumku mengembang seiring memori yang tetap mengalunkan kenangan indah. Aku juga ga habis pikir kenapa satu keluarga bisa muat dan begitu berani ? Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan aku sedang menikmati kebersamaan ketika itu. Selama enam tahun parade keluarga dengan motor tua berlangsung.

Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, kami segera menepikan motornya, sekeluarga semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah sadel. Mantel dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalam mantel. Mantel satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah, mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, di jalanan lurus, seorang kakek menyeberang jalan tanpa lihat kiri kanan, dan nampaknya si Tut-tut juga sedang gesit-gesitnya hingga kakek itupun terpental tanpa ampun dan muntah darah. Sementara istri dan anakpun terpental dan aku sendiri terlindas dengan tragis.
Untungnya setelah seminggu opname di rumah sakit, kakek tersebut bisa sembuh, sementara kakiku masih membiru.

Kenangan ini menjadi milikku… belum tentu dimiliki oleh orang lain. Kebahagiaan dan kebersamaan keluarga dibangun di atas motor tua. Antara percaya dan tidak, tapi aku yakin motor itu jadi salah satu sarana kebahagiaan kami dan keluarga hingga sekarang.

Terimakasih padamu tut-tut. Walau sekarang kau sudah batuk-batuk dan sakit-sakitan, jasa-jasamu tetap terpatri di dalam hati. Dengan air mata yang hampir jatuh, kulangkahkan kaki menuju pintu dan suara istri dan anakku tetap dengan riuh rendah, sama seperti dulu menyambut kedatanganku… Betapa hangatnya cinta-Mu ya Tuhan. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…Just grab the throttle, bang the engine, and let your body, mind & soul fused into nature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s