Hidup di Desa


2011nov0089.jpg
Suasana desaku di Tulungagung pada pagi hari

Banyaknya pengangguran di kota Batam pada akhir – akhir ini sudah pada tingkat menghawatirkan, bagaimana tidak jumlah lowongan kerja dan penggangguran sudah sangat timpang, hal ini juga berdampak pada tingginya kriminalitas di kota ini.Berita pencurian , jambret, curanmor, penipuan, hingga pembunuhan menjadi berita sehari -hari di media lokal.

Hampir semua pencari kerja yang saya temui, mengatakan mereka di ajak oleh keluarganya untuk merantau ke kota ini, atau di paksa merantau seperti saya dulu,alhasil arus urbanisasipun mulai meningkat. Meski ada ajakan untuk tidak mengadu nasib ke kota-kota besar nyatanya warga pendatang  semakin meningkat saja dari tahun ke tahun.

Kota  memang menawarkan beribu pesona dan daya tarik. Menggiurkan banyak orang. Apa saja ada di sana. Meski demikian ada saja orang-orang yang merasa kurang beruntung setelah mereka mencoba mencari penghidupan di kota besar.

Para pengemis dan gelandangan yang selama ini dianggap sebagai pihak yang menimbulkan masalah ketertiban di perkotaan ternyata masih merasa nyaman saja meski mereka sering menjadi sasaran petugas keamanan dan ketertiban

Pernahkah kita mendengar pemberitaan bahwa ada seorang pengemis di Jakarta yang berhasil mengumpulkan uang hasil ngemisnya sampai puluhan juta? Orang-orang tertentu itu meski tanpa keahlian khusus mencoba bersandiwara dengan berpura-pura menjadi pengemis atau memang benar-benar seorang pengemis untuk tetap ngotot mencari nafkah di Kota Jakarta.

Kota besar bak surga dunia. Bagaimanapun membiusnya kehidupan di kota besar namun ada saja orang yang berkeyakinan lain. Mereka berprinsip bahwa hidup nyaman dan tentram tidak selalu harus di kota besar. Di desapun atau di kampung halaman tercinta itu mereka juga bisa menikmati hidup secara layak.

Di kota kita terbiasa berpacu dengan waktu, meyelami ritme kehidupan kota yang cepat. Mulai bangun tidur kita disibukkan untuk bersiap-siap dan bergegas mengejar angkutan untuk berangkat ke kantor. Waktu kita seakan tersedot habis untuk mengejar masalah-masalah duniawi.

Berbeda jauh dengan kota, ritme kehidupan di desa berjalan lambat, ketenangan menyelimuti tiap sudut desa. Dengan begini kita akan lebih bisa memaknai arti hidup, bahwa hidup tak hanya melulu untuk mengejar kekayaan duniawi. Lebih dari itu, kita juga harus sadar bahwa jiwa dan hati kita juga butuh ketenteraman

Meski di sebagian desa di berbagai penjuru Indonesia sudah terimbas arus modernisasi akibat pesatnya teknologi informatika namun ciri umum desa sebagai sebuah daerah yang kehidupan masyarakatnya masih kental akan nuansa religius

Secara sosial-ekonomi masyarakat di pedesaan umumnya tergolong ke dalam kelas menengah ke bawah. Itu bisa dilihat dari keseharian mereka. Soal pemenuhan kebutuhan makan setiap hari misalnya, orang-orang desa tak segan-segan memanfaatkan hasil sawah-ladang (pekarangan) mereka. Sayuran, buah atau hewan ternak bisa mereka gunakan setiap saat bila mereka sedang membutuhkannya.

Saya juga tak ingin mengatakan bahwa semua masyarakat kota hanya peduli materi, dan tak semua masyarakat desa senang akan kesederhanaan. Khususnya mereka kaum muda yang haus akan petualangan dan pengalaman, lebih memilih hijrah dari desa dan mencoba mencari keuntungan di kota. Pada akhirnya, semua kembali dari pribadi dan pendapat masing-masing

Bagi saya desa mungkin tidak segemerlap kota-kota besar namun di desapun seseorang bisa hidup dengan bahagia dan tentram. – S.Ete

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s