Tentang nostalgia itu


Anakku Senja.. ada banyak alasan kenapa kamu yang harus mengemban tugas berat ini mendengarkan ocehan bapakmu ini, kenapa tidak kedua kakakmu Nadia atau Najwa, kenapa pula tidak mamamu atau mungkin paklik atau mbahmu. Semua itu karena kamu adalah anak bungsu yang belum mengerti apa-apa ketika cerita ini di buat, karena kamu adalah harapan terakhirku untuk mendengarkan resah ini. Karena di nadimulah aku berharap ada setitik jiwa yang mendengar, jiwa yang akan menuntunmu mengerti akan dongeng, puisi, sejarah seperti hobbyku dulu.

Demikian halnya kenapa aku memilihkan kata SENJA di akte kelahiranmu, mungkin sebagian orang terdengar nama yang aneh tapi bagiku kata itulah yang sangat sempurna, indah sekaligus mewakili semua kata yang ingin ku rangkai di seluruh kehidupan ini. Dan ketahuilah bahwa semenjak dahuluaku mempunyai kebiasaan aneh yang mamamu sendiri sampai sekarang tidak mengetahuinya, yaitu memburu senja, kamu tentu sudah mulai ingat ketika kita bertiga bersama Najwa berburu senja bersama-sama dan itu sempat aku abadikan dengan kamera pinjaman dari tempat ku bekerja. Dan juga serunya berburu senja di lapangan bola samping Mitra mall bersama kakakmu Najwa.

Baiklah.. Dengarkanlah karena mendengar adalah sebuah pelajaran yang penting untuk menjadi manusia, karena mendengar akan menjadikanmu manusia yang paling bijaksana, jangan hanya pandai bicara saja seperti komentator bola yang terkenal dengan kata jebretnya itu atau pengamat politik dan para caleg itu. Mendengarlah seperti saat dirimu ku ceritakan kisah tentang putri cinderella yang membuatmu terkantuk-kantuk dan terpaksa ku buat cerita seri yang terus bersambung yang membuatmu mengerti juga bagaimana akhir dari cerita tersebut. Dengarkanlah meski saat ku tulis ini kamu sedang terlelap di belakangku, di ruang tamu di depan TV kamu terbujur mengangkang. Sejak kemarin terpaksa kita tidur di ruang tamu, biasanya kita tidur di kamar belakang, kamu di atas tempat tidur bersamaku sedangkan mamamu di bawah memilih yang dekat dengan kipas angin. Hujan semenjak minggu kemarin membuat kamar kita menjadi lembab di tambah dengan deretan baju basah yang di jemur di atas tempat tidur kita, belum lagi batukmu yang mulai kambuh. Biarlah meskipun diluar banyak nyamuk demi kesehatanmu kita pindah tidur dulu. Kasihan mamamu jika hujannya lebat, pasti di sudut kamar kita air hujan akan mengalir deras seperti pancuran air wudhu di kampung mamamu. Sebuah kampung di kaki gunung talang, terkepung oleh deretan pegunungan merapi Sumatera. Kampung yang penuh dengan para manula, dan sangat angker menurut pendapatku. Di mana-mana tempat di depan rumah,di samping rumah, atau bahkan mungkin di dalam rumah dapat dengan mudah kita temui kuburan tanpa batu nisan. Dan ketika ku tanyakan mengapa bisa demikian? Mamamu hanya menjawab di sana masih banyak tanah yang kosong. Kesan keangkeran itu juga bisa di rasakan dengan banyaknya pohon beringin yang tumbuh subur dengan daun daun yang lebat seakan di atasnya banyak puluhan pasang mata yang siap menerkam kita yang berada di bawahnya. Maka tak heran jika hampir seluruh remaja di sana tak betah jika berlama lama di desa. Mereka memilih merantau seperti halnya mamamu.Tak ada yang di andalkan di sana selain sawah leluhur yang harus di bagi entah sudah sampai generasi berapa sekarang.

Usia talang plastik genting rumah kita sudah mulai tua sehingga membuatnya mengkerut tak mampu lagi menampung air hujan jika terlalu deras. Sudah ada rencana untuk mengganti yang baru tapi selalu ada kebutuhan yang lebih penting, meski mamamu berusaha untuk menyisihkan secuil penghasilanku juga di tambah gaji mamamu tapi buktinya masih belum mampu merealisasikan rencana itu. Spp ngajimu sudah tiga bulan ini belum di bayar demikian halnya spp ngaji kakakmu Najwa, beruntung kemarin kakakmu Nadia meminta duluan sehingga bisa bayar spp ngajinya, jika tidak pasti terpakai juga untuk mengganti oli motor butut itu. Sebenarnya aku ingin kamu ngaji di masjid dekat rumah kita ini saja, agar kakimu yang mungil itu tidak terlalu penat untuk di paksakan ke blok I sana, tapi kamu malah ngotot untuk ikut ngaji di tempat kakakmu sana, ya sudahlah temanmu juga sudah mulai banyak di sana, jadi tak ada alasan bagiku untuk memaksamu pindah mengaji ke masjid dekat rumah kita.

Mataku sudah mulai lelah, tapi telah kamu basahkan kasur kita dengan ompolmu membuatku menunggu setidaknya sudah mulai mengering sedikit di tiup oleh baling-baling kipas dinding yang aku beli seharga seratus ribu di pasar second samping pasar aviari sana. Sebelumnya kita tidur berpanas-panasan tanpa kipas angin yang membuat kulitmu memerah karena menahan panasnya Batam.

Si Nurun dan Si Anis kucing kesayanganmu barusan ku keluarkan dari rumah, jika tidak, esok pagi pasti nenekmu akan sibuk dengan hadiah dari mereka berdua, seonggok tai yang khas akan di berikan oleh Anis jika semalaman dia terjebak di dalam rumah. Di luar dingin mulai mencekam, membuatku malas untuk memasukkan motor butut itu ke dalam rumah. Biarkan sajalah, toh siapa yang akan mau mengambil motor tersebut. Mamamu saja nanti yang akan ngomel kenapa sampai larut segini motor belum juga di masukkan. Sekarang sudah jam 22.30 berarti satu jam lagi mamamu akan pulang kerja, sembari menunggu dia pulang biarlah ku teruskan cerita ku ini.

Cerita itu bermula ketika suatu malam di bulan Februari sampai April 1997 ketika aku sedang bekerja sebagai buruh pabrik kabel. Jam duabelas siang saat semua karyawan telah istirahat untuk makan aku harus terus bekerja karena telah istirahat duluan jam sebelas tadi. Sudah menjadi tradisi semua pabrik di Batam ini haram hukumnya mesin berhenti berjalan meskipun pada waktu istirahat, hal inilah yang di akali oleh mereka bagaimana mesin tetap jalan terus tapi karyawannya juga bisa istirahat. Tapi tugas juga bertambah, biasanya di kerjakan oleh dua orang berhubung yang satu istirahat, itulah salah satu perampokan para pengusaha selama ini, belum lagi gaji yang kadang telat mereka bayarkan, di samping pengebirian hak-hak buruh lainnya. Saat aku sedang sibuk bekerja datanglah dua orang perempuan yang satu berambut ikal dan yang satu berambut pendek yang tak lain adalah mamamu. Aku tidak kenal dengan mereka berdua, karenanya ketika mereka berdua datang ku biarkan saja seolah tak terpengaruh oleh kehadiran mereka. Yang berambut keriting itu ternyata adalah teman dekat dari kawanku Junaedi yang sedang istirahat, maksud mereka berdua adalah menanyakan temanku tersebut. Sembari menunggu Junaedi selesai makan siang mereka mengobrol denganku dan aku menunggu mesin yang terus berputar menggulung dengan lahap helaian kabel yang keluar dari mesin produksi. Kejadian di atas terus berulang hingga beberapa minggu membuat kami sudah mulai akrab secara tidak sengaja. Dari situlah aku merasakan bahwa kehadiran mamamu waktu itu mampu memberi sedikit keceriaan dalam hari-hariku yang membosankan. Semenjak di paksa oleh mbahmu untuk ikut merantau di Batam dengan salah satu keponakannya, perasaanku masih sangat sulit untuk meredam dan melupakan kerinduanku, kerinduan pada gerombolan remaja yang merindukan pengakuan, kerinduan pada nyanyian nestapa si Toha salah satu temanku yang terus mendendangkan nyanyian-nyanyian usang, kerinduan pada semerbak harum tangkai padi yang baru saja di panen oleh ibu-ibu yang memakai caping3, kerinduan pada busuknya teletong4 sapi dari kandang di sebelah rumah yang dengan lahap menghabiskan damen5 yang telah di campur garam. Kerinduan pada wangi rambut gadis desa yang mengayuh sepeda bergerombol dan berpeluh saat mereka berangkat kerja atau ke sekolah, kerinduan pada doa-doa yang mengalir seperti aliran sungai belakang rumah dari toa mushola di desa sebelah dan yang pasti kerinduan pada suara lembut mbah putrimu yang mendendangkan kidung-kidung jawa yang penuh dengan petuah kehidupan, pada wangi tembakau mbah kakungmu yang berceceran di atas meja. Tak ada terbersit sedikitpun di benakku jika pada akhirnya harus terdampar di pulau gersang ini, pulau yang aneh dengan orang orang yang aneh, pulau yang kemerahan karena tanahnya penuh dengan bauksit, sangat berbeda dengan di Gondang sana yang sejauh

3 topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu biasanya sering di pakai jika berada di persawahan. 4 kotoran sapi. 5pakan sapi yang berasal dari tangkai padi yang telah di jemur hingga kering

mata memandang hamparan sawah menghijau dengan tanah yang menghitam subur. Pulau yang sangat jauh dari semua cintaku yang telah ku tinggalkan, pulau yang harus di tempuh selama dua hari tiga malam terkatung-katung di atas kapal Umsini yang bau pesing. Kapal yang harga sebungkus rokok bisa berbeda tiga kali lipat dengan harga normalnya. Di pulau inilah ketika pertama kali tak pernah ku temui sakral dan indahnya tutur bahasa Jawa di perdengarkan. Kalah dengan sombongnya bahasa orang kota dan berbagai bahasa daerah yang sangat aneh di telingaku lengkap dengan logat dan intonasi yang aneh. Sejak mamamu mengajakku menikmati hari minggu sebuah hari yang sangat mahal untuk semua buruh, di mana hanya sehari itulah semua hal yang bersifat keakuan di tumpah ruahkan, di pajang dengan telanjang di dadanya masing masing. Yang berduit tebal tentu akan memanjakan syahwatnya, sementara yang lain memilih untuk berdiam diri di rumah sambil menikmati ocehan para pembawa acara TV yang menguliti sebuah berita di negeri kacau kita ini.

Dengan polosnya mamamu mengajak pergi berdua ke sebuah pantai di ujung pulau ini, jangan kau bayangkan sebuah pantai indah penuh dengan pasir putih, karena yang aku tahu nyaris tak ada pasir di pantai itu. Yang ada hanyalah pantai kotor penuh dengan tanah liat bekas timbunan dan sampah yang mengapung yang sengaja di campakkan oleh tuannya. Beruntung masih ada secuil bagian pantai yang penuh dengan batu karang yang di sela-selanya belasan pohon bakau masih cukup kuat untuk menahan ombak kiriman dari negeri singa yang angkuh mengejek sinis kearah pulau Batam. Mengejek betapa miskin dan kotornya jika di bandingkan dengan negara pongahnya. Di antara bakau inilah mamamu dengan kekanakannya menggodaku untuk mengikutinya menari di atas ombak atau bersembunyi di bawah air di antara bebatuan. Jiwa lelakiku pun berontak dan tertantang, ibarat ayam jantan yang terus di ejek oleh ayam betina yang terus menari-nari di depan kurungan. Ayam jantan itupun segera tertantang dan memamerkan suaranya yang nyaring, yang mampu membuat siapapun yang mendengar akan terpesona dan kemudian klepek-klepek tak berdaya. Apakah aku tergoda? Belum, Masih membutuhkan waktu yang lama untuk membuat hatiku luluh dan mengatakan I love you atau maukah kamu jadi pacarku seperti cerita-cerita sinetron jaman sekarang. Aku merasakan masih teramat belia waktu itu, belum waktunya lebay dan ikut-ikutan dengan temanku yang lain yang dengan mudahnya saling bergandengan tangan padahal seperti ibuku bilang kencing saja belum lurus. Masih banyak mimpi yang belum ku raih di antaranya adalah untuk bisa kuliah lagi seperti teman-temanku, membantu orangtua meringankan beban mereka dan mimpi-mimpi lainnya. Maka dari itulah mamamu yang sudah ku buat terbuai, akhirnya memutuskan untuk meninggalkankanku dan memilih laki-laki lain untuk pengobat hatinya. Sementara aku meneruskan perjalanan menyusuri sisi lain kehidupanku, sendiri terseok-seok di belantara Batam tanpa ada satu orangpun peduli. Kasihan.

Dan waktupun akhirnya yang menjawab, ketika aku merasa lelah dan sangat letih ku putuskan untuk menghubungi mamamu di tempat kosnya akan tetapi dia tidak ada dan ku tinggalkan pesan pada ibu kostnya untuk menemuiku keesokan harinya. Tanpa sedikitpun berharap keesokan hari mamamu datang dan sejak itulah kisah percintaan antara dua anak beda pulau dan dua ras manusia di mulai. Aku yang Jawa yang mungkin masih mengalir trah Majapahit dan mamamu yang Minangkabau. Kamu tentu pernah mendengar  cerita tentang Adityawarman yang keturunan Majapahit Pendiri Kerajaan Pagaruyung Minangkabau, Ayahnya Raden Wijaya dan Ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan Dharmasraya. Dan agar kamu tahu juga bahwa Raden Wijaya adalah Pendiri sekaligus Raja Majapahit yang pertama. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya. Raden Wijaya adalah anak dari Rakeyan Jayadarma, raja ke-26 dari Kerajaan Sunda Galuh, dan Dyah Lembu Tal, seorang putri Singhasari. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan keturunan langsung dari Wangsa Rajasa, yaitu dinasti pendiri Kerajaan Singhasari. Sementara Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit untuk wilayah Pulau Sumatra. Ia mendirikan istana baru bernama Malayapura di Pagaruyung (daerah Minangkabau) karena tidak mempunyai hak atas tahta Kerajaan Dharmasraya. Selanjutnya, Adityawarman pun menjalankan misi penaklukkan Sumatra bagian utara yang saat itu dikuasai oleh Indrawarman raja Kerajaan Silo. Indrawarman adalah bekas tentara Singhasari yang menolak kedaulatan Majapahit dan memilih mendirikan kerajaan sendiri di daerah Simalungun.

Senja..Engkau harus tahu asal usulmu nenek moyangmu agar kamu menghargai semua kebudayaan moyangmu.

Mencintai mamamu, ternyata juga berarti melukai banyak cinta yang aku punya. Bukan berarti mereka tidak sayang pada mamamu, bukan itu                                                                                   Hanya saja, mereka memang belum sepenuhnya setuju, bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan. Mereka tidak setuju hanya karena ibumu yang berasal dari negeri yang jauh, yang tentu akan membuatku semakin jarang untuk sering pulang menjenguk mereka. Hanya mbah putrimu yang tidak berpikiran seperti itu. “Kau sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanmu ” katanya. ”Aku orang bodoh, dan kau jauh lebih tahu tentang resiko yang kau pilih” bisiknya kepadaku ketika aku menelepon dia. ”Kuserahkan semua pilihanmu kepadamu, anakku. Meskipun aku lebih suka kau tidak mengambil resiko itu,” demikian mbah berkata padaku. Ketika Mbahmu berkata demikian, kalimat itu seolah bukan keluar dari mulutnya. Aku tak yakin, ia yang hanya lulus sekolah dasar sanggup mengeluarkan kalimat yang sebijaksana demikian. Seketika melelehlah air mata ini sederas air hujan bulan November yang sangat lebat dan mencabik-cabik perasaanku dengan kelembutan hatinya yang besar.

Dan inilah yang menyemangatiku untuk mengepak ransel, menuruti ajakan mamamu, meninggalkan sejumlah cinta, untuk mendapatkan secuil cinta dari gadis minangkabau yang unik, yang tertawanya renyah, senyumnya membuat malam-malamku selalu di hantui perasaan aneh, dan seorang gadis pertama yang mencium mesra telapak tanganku yang kurus ini yaitu mamamu.

Jenang gulo kowe ojo lali marang aku iki cah ayu Nalikane nandang susah sopo sing ngancani.

Nak Kamu pasti tidak pernah mendengar syair lagu di atas kan? Dan kamu juga pasti tidak akan suka dengan kelembutan nada yang mengalir menyejukkan yang keluar dari gamelan jawa yang aku banggakan sebagai orang jawa. Di sini, jelas kau dan kawan seumuranmu tak akan menyanyikan lagu di atas. Bahkan, mendengarkannya pun aku rasa baru kali ini.

Aku mengerti. Jaman di mana kau tumbuh saat ini, anak seumuranmu lebih rela kebebasannya terenggut oleh mainan-mainan modern di komputer atau facebookan bersama teman-temanmu. Bocah-bocah sepertimu, malu berbelang kaki karena luka atau bekas borok menganga akibat permainan alam yang berisiko luka. Berbeda jauh dengan jamanku kecil dulu yang mainan paling mewahnya hanyalah layang-layang yang terbang anggun di hamparan sawah depan rumah, atau mobil-mobilan yang rodanya terbuat dari sandal jepit bekas. Atau mandi di sungai Song di belakang rumah yang berair coklat namun menyegarkan itu, aku dan kawan-kawan bapak kerap beradu cepat renang dan main bola tangan yang bolanya dari baju salah satu dari kami yang di buat bulatan. Sesekali ketika kami beradu renang, kepala kami tak sengaja menyundul benda lunak berwarna kuning kecoklatan yang “harum” baunya. Itulah Taik orang yang di lepaskan di sepanjang sungai. Dan ketika hal ini terjadi, kembalilah tawa kami meledak sejadi-jadinya.

Memang di sepanjang sungai adalah pusat aktivitas warga selain pasar rakyat dan lapangan bola. Di sungai, ketika kau asyik berenang, kau tidak bisa melarang seseorang buang hajat di atasnya. Kau cuma harus pandai-pandai. Maksudnya, pandai-pandai mengelak jika ada taik yang tiba-tiba lewat saat kita sedang asyik berenang.

”Bukankah itu menjijikkan? Kotor? Taik orang kena kepala kita?” kau mungkin akan bertanya demikian. Ha-ha-ha, iya. Tapi ketika itu kami tidak peduli. Apalah arti kata “jijik” dibandingkan kegembiraan yang kami dapatkan. Lagi pula, begitu usai mengumbar kesenangan di sungai itu, kami akan mandi di sumur rumah masing-masing.

Sungai yang dulu pernah meluap karena tak mampu menahan laju deras air dari pegunungan Wilis ini juga menjadi ladang makan sampingan kami semua. Di antara ceruk-ceruk alirannya, di balik bebatuannya, kami kerap berburu udang atau ikan wader yang gurih nan lezat itu. Kalau cuma udang, cukup berbekal jari-jemari kecil kami saja. Dengan satu jari, lubang-lubang kami rogoh. Sementara jemari lainnya sudah siap di depan lubang. Jika udangnya keluar, jemari yang sudah siap itu langsung, jlup... menangkapnya.

Untuk ikan wader atau bader, kami perlu kail. Dan ini kerap sedikit menyulitkan. Harga seperangkat pancing jauh dari jangkauan kantong keuangan kami. Namun kami tak kehilangan akal. Gedebok pisang tua yang mengandung serat-serat elastis bisa kami manfaatkan. Kami loloskan seutas senar dari gedebok pisang itu. Kami gali pinggiran parit sawah untuk berburu cacing-cacing merah kecil. Kami ikatkan cacing itu di ujung senar gedebok pisang. Lalu, siaplah pancing sederhana itu. Satu serat gedebok pisang sudah cukup ampuh untuk mendapatkan belasan wader sebesar jempol anak-anak.

Tapi pancing ini hanya ampuh untuk wader-wader kecil. Wader besar kerap memutuskan senar gedebok pisang kami. Jadi, kami harus memilih memancing di potongan sungai yang airnya dangkal nan deras, untuk memburu wader-wader kecil itu. Jika mancing di air yang agak dalam, bisa jadi umpan kita disambar lele atau ikan gabus. Nama ikan yang terakhir ini, kerap sangat kami hindari. Kami waktu itu percaya, ikan gabus atau kami biasa menyebutnya “kuthuk”, adalah penjelmaan setan sungai. Kelopak matanya bisa berkedip kalau kita tiup. Oleh karenanya setelah mendapatkan ikan ini kami selalu memberikan pada orangtua kami untuk di periksa apakah ikan tersebut ikan siluman atau bukan.

Jikalau acara berburu ikan sudah membosankan, sasaran lain sudah menanti hamparan ladang dengan aneka tanaman pengganjal perut dan pemuas dahaga. Ada singkong, ketela daun, jagung, pepohonan kelapa, pohon mangga, hamparan tebu, dll. Bahkan jika kita ingin makan besar, dari rumah kita sudah siapkan ketapel untuk mengetapel ayam-ayam warga tetangga dusun atau bebek-bebeknya yang bermain sampai jauh ke seberang sungai. Mendebarkan.

Ketika kami ingin merasakan menu berbeda, kami kerap berubah menjadi pencuri kecil. Mengendap-endap membongkar singkong atau ketela daun. Sementara satu kawan yang lain, menurunkan kelapa-kelapa muda. Satu rekan yang lain, mengumpulkan kayu untuk membakar hasil curian kami. Dan yang lain lagi, kejar-mengejar ayam sasaran, membidikkan ketapel.

Untuk yang terakhir, aku punya seorang kawan yang jago dengan ketapelnya. Panut kami memanggilnya.. Dialah yang selalu mendapat tugas mengeksekusi ayam-ayam yang berkeliaran di ujung kali. Penglihatannya tajam. Kemampuan mengendap-endapnya mumpuni. Dan ketangkasan membidik sasaran luar biasa. Mungkin karena dia dianugerahi dua tangan yang sangat kokoh. Ke manapun dia pergi, selalu terselip ketapel di pinggangnya. Dia adalah anak dari adik kakekku, jadi seharusnya aku memanggil dia paman, tapi karena umur kami tidak jauh beda aku cukup memanggil namanya saja. Kami bisa mengandalkan dia untuk sebuah pesta pora.

Malam haripun kami tidak mau melewatkan malam begitu saja, jika kamu pada malam hari sudah terbiasa dengan mainan game di komputer atau nonton OVJ di Trans7, jamanku dulu sangat jauh berbeda, karena dulu hanya satu dua orang saja yang punya televisi, itupun yang hitam putih dengan antena sangat tinggi untuk dapat menikmati siaran TVRI satu-satunya stasiun TV waktu itu. Malam hari seusai belajar kami biasanya main Gobak sodor sejenis permainan benteng-bentengan atau berburu kunang-kunang yang kemudian di masukkan ke dalam plastik bekas bungkus kerupuk yang warnanya bening. Jika sudah bosan kami tak segan-segan untuk turun ke sawah untuk nyuluh berburu belut dengan berbekal obor atau lampu stongking dan sebuah pisau.

Masa anak anak dan remaja adalah masa yang paling indah untuk kita kenang, banyak cerita dan peristiwa yang pernah kita alami, baik suka maupun duka,.disisi lain ada juga kenangan indah.

Ah, sudahlah tentang nostalgia itu. Jaman berbeda, dan bapak tak menyalahkan kamu! Menyalahkan jaman. Yang masih serupa hanyalah, bahwa kau bocah dan bapak juga pernah menjadi bocah seusiamu meski mainan kita berbeda sesuai jaman kita masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s