Posts filed under 'Keuangan Keluarga'
Kartu Kredit: Suatu Kebutuhan??
Hampir setiap saya menyambangi pusat retail ternama di Ibukota, ada saja salesperson yang menawarkan pembuatan Kartu Kredit. Iming-imingnya bervariasi, mulai dari gratis iuran bulan hingga berhadiah cangkir, bahkan tidak jarang sang salesperson berbohong untuk mendapatkan mangsa.
Kemudahan untuk mendapatkan Kartu Kredit, cukup dengan pendapatan Rp12jt/tahun, membuat semakin banyak orang memiliki Kartu Kredit. Sebenar perlu ditanyakan, apakah kita benar-benar membutuhkan Kartu Kredit?
Kartu kredit memiliki banyak sekali keuntungan, yang paling utama adalah kemewahan yang diberikan ‘beli sekarang, bayar kemudian.’ Bahkan tidak jarang bank penerbit kartu kredit mengeluarkan program belanja agar kita semakin sering menggunakan kartu kredit. Sebut saja program kepemilikan alat elektronik dengan bunga 0%, program rabat kerjasama dengan berbagai butik, resto, hotel, salon, dan banyak lagi.
Online
Keberadaan internet telah mengubah cara belanja. Dengan menggunakan kartu kredit dengan mudah kita dapat belanja dari rumah. Yang perlu diperhatikan ketika melakukan pembelanjaan online antara lain, keamanan jaringan dan tingkat kepercayaan perusahaan.
Kunjungan ke luar negeri
Kelebihan lain, kita dapat melakukan pembelian dengan menggunakan kartu kredit di belahan dunia manapun tanpa harus memikirkan konversi kurs mata uang. Dan saat ini, hampir seluruh bank penerbit kartu kredit menawarkan proteksi pembayaran.
Darurat
Memiliki kartu kredit sangat menguntungkan pada saat kita mengalami situasi emergensi/darurat. [Semoga tidak terjadi. Amien] Jika terjadi kecelakaan, sementara uang yang ada di dompet tidak mencukupi kebutuhan. Apa yang harus dilakukan? Tentu saja, kita dapat bergantung pada kartu kredit untuk melunasi tagihan rumah sakit.
Orang seringkali menyalahkan kartu kredit, saat mereka menggunakannya dengan tidak bijaksana. Padahal jika digunakan dengan tepat dan cerdas, kartu kredit akan sangat membantu.
Add comment November 6, 2007
Pedoman Mengelola Uang
Mengenalkan konsep uang pada anak
Umur berapa anak boleh menerima uang saku?
Sebagian besar mungkin menjawab setelah anak dapat memahami nilai uang, sebagian lagi bahkan memberikan uang saku sejak anak berusia 3tahun.
Di tulisan ini, kita tidak akan memperdebatkan hal tersebut. Namun, pada artikel ini terdapat beberapa rambu yang harus menjadi perhatian.
1. Tetapkan jumlah uang saku yang diterima anak, berikut periode pemberiannya (harian, mingguan, atau sesuai kesepakatan Anda)
2. Ingat konsekuensi akan kehabisan uang, dan manfaat menabung.
3. Jelas dengan baik mengapa kakak menerima uang saku lebih banyak dari sang adik.
JANGAN PERNAH!!!
1. Memberikan uang sebagai iming-iming agar anak mau melakukan kewajibannya, seperti belajar atau membereskan tempat tidur.
2. Memberikan uang sebagai imbalan berbuat baik.
3. Memberikan uang sebagai pengganti rasa bersalah Anda tidak menepati janji menemani mereka jalan-jalan.
Pada anak yang lebih besar, Anda bisa mulai mengenalkan konsep uang secara lebih detil. Mulai dari manfaat menabung untuk jangka panjang, atau sekedar mengajarkan pada anak bahwa ada rekening listrik atau air yang harus dibayar.
Berapapun uang saku yang Anda berikan pada anak, jangan alpa memantau bagaimana cara mereka menghabiskannya.
ditulis ulang dari artikel berjudul sama tabloid Aura 33/IX
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 5:03 PM
Tuesday, October 23, 2007
Yuk, Atur Ulang Cash Flow Rumah Tangga
Punya resolusi setelah Idul Fitri?
banyak-nya pengeluaran saat menjelang lebaran, membuat kita deg-degan menunggu pay day berikutnya:-)
Anda mungkin tidak, tapi… mungkin rekan kerja di samping Anda butuh resolusi keuangan anyar. Gak ada salah berbagi artikel ini dengan mereka.
Sebelum memulai, mari kita siapkan selembar kertas dan pena.
Siap…!!!
Mari kita mulai bersama.
Pertama
Tuliskan dengan jelas berapa banyak jumlah pemasukan Anda (dan pasangan) dalam satu bulan.
Ingat!!! Jumlah yang dituliskan adalah jumlah yang masuk ke rekening Anda.
1. Gaji Anda
2. Gaji Pasangan
3. Pemasukan lain-lain (hasil bisnis, bonus, dll)
Kedua
Rinci pengeluaran Anda. Bagi antara pengeluaran tetap dengan pengeluaran tidak tetap.
Contoh pengeluaran TETAP
1. Cicilan/Sewa rumah
2. Listrik
3. PAM
4. Telpon
5. Internet
6. Gaji asisten/baby sitter
7. Belanja bulanan
Contoh pengeluaran TIDAK TETAP
1. Makan di restoran
2. beli baju, parfum
3. rekreasi (nonton di bioskop)
Pecah rincian pengeluaran yang Anda buat menjadi bagian yang spesifik.
Misalkan menjadi
Perumahan (sewa rumah, gaji asisten)
Fasilitas rumah (listrik, air, telpon, internet, gas, dll)
Makanan (belanja harian, makan di resto, snack, minuman ringan dll)
Transportasi (bensin, tol, taxi, dll)
Kesehatan
Penampilan (beli baju, sepatu, salon, termasuk di dalamnya biaa dry-cleaning)
Hiburan
Tabungan (dana pensiun, asuransi pendidikan dll) Note: Pastikan Anda menabung di awal Anda menerima gaji
Cicilan (kartu kredit, kredit mobil, dll)
Sudah mulai pusing? Jangan dulu:-)
Anda sudah selangkah lebih maju, menuju kehidupan yang lebih baik.
Isi tabel yang telah Anda buat.
Jangan lupa isi sesuai kebutuhannya. TETAP atau TIDAK TETAP.
Saat paling penting dalam hidup Anda baru saja dimulai, hehehe…
Perhatikan baik-baik setiap pengeluaran Anda.
Setiap rupiah yang Anda hemat, artinya rupiah tambahan untuk kebutuhan penting lain.
Misalkan, Anda terbiasa membeli tissue lembut dengan merk tertentu. Pertimbangkan untuk membeli tissue merk lain dengan harga lebih murah.
Terbiasa berangkat ke kantor sendirian? Coba ajak beberapa kawan yang searah, Anda bisa mendapatkan pemasukan tambahan:-)
Jumlahkan pengeluaran Anda. Bandingkan dengan pemasukan Anda.
Mulai kurangi jumlah yang berada pada kolom TIDAK TETAP.
Atur pengeluaran pada kolom TETAP, hemat pada beberapa pos.
Merinci pengeluaran bisa jadi membuat Anda hopeless, tapi… melakukannya membuat pikiran Anda terbuka.
Selamat membuat resolusi baru. Dan sukses untuk Anda & keluarga!!
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 9:23 PM
Friday, July 27, 2007
Asuransi dan Investasi
Perencana Keuangan seperti Pak Safir Senduk, bahkan Penulis/Pembicara terkemuka seperti TDW, Michael LeBoeuf, Ph.D dalam bukunya “the Millionaire in You” menegaskan bahwa:
Jangan campur adukkan asuransi dan investasi, maksudnya:
1. Belilah asuransi untuk proteksi dan perlindungan untuk memberikan jaminan keuangan
dari berbagai musibah, termasuk sakit dan kematian.
2. Ber-investasi-lah di Perusahaan Investasi.
Ada beberapa hal dasar penyampaian 2 hal tsb. di atas:
1. Ber-investasi sendiri akan memberikan RETURN yang lebih besar dan SEGERA
2. Ber-investasi sendiri memberikan akses yang lebih luas kepada kita untuk
mengatur port-folio dan memindah2kan
3. Ber-investasi sendiri tidak dikenakan biaya yang besar
Ber-investasi di Perusahaan Asuransi dengan membeli UNIT-LINK ada beberapa kekurangan:
1. Dana Anda baru akan mencapai Break Even Point pada tahun ke 4, ada yang tahun ke 5 atau 6
Jadi akan mengalami kerugian bila mencairkannya sebelum tahun ke 4.
Mengapa??? Karena Perusahaan Asuransi membayar biaya komisi agen yang besar,
biaya iklan Agen di Surat Kabar yang sangat besar, dan biaya Jalan2 ke Luar Negri
2. Akses Anda kepada investasi tidak se-leluasa Anda ber-investasi sendiri
Investasi di Asuransi memiliki kelebihan sbb.:
1. Anda yang repot dan tidak punya waktu, maka instrumen ini cocok
2. Anda yang tidak disiplin dan tidak mampu mengendalikan diri, instrumen ini pas
3. Anda yang awam dan tidak mau belajar bagaimana ber-investasi sendiri, instrumen ini OK
Sekali lagi kami sampaikan tanpa memiliki kepentingan apapun dibalik tulisan kami, maka kami sarankan kepada Anda untuk memisahkan ke 2 (dua) unsur ini.
Asuransi harus dibeli untuk “Financial Security & Peace of Mind”
Investasi harus ditata untuk “Financial Independent & Happy Life”
Demikian dan semoga bermanfaat.
Freddy Pieloor, Praktisi & Konsultan Asuransi & Perencana Keuangan
Labels: asuransi, investasi, keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 8:52 PM
Sunday, April 22, 2007
Tips Melakukan Perencanaan Keuangan Keluarga
Melakukan perencanaan keuangan adalah hal PENTING yang selalu ditunda pelaksanaannya:-) Dalam pelaksanaannyapun, rencana keuangan yang telah disusun sangaaat berat untuk dilaksanakan. Kenapa? Semuanya adalah masalah DISIPLIN!!! Tahan godaan untuk tidak melirik tulisan SALE sepatu designer atau tas dengan merk kenamaan.
Bagaimanapun juga, merencanakan keuangan adalah hal yang HARUS dilakukan, karena suatu hari kita pasti pensiun suatu hari, atau tetap keuangan keluarga tetap stabil jika ada kecelakaan, atau kehilangan pekerjaan tetap. Perencanaan keuangan yang baik akan membantu Anda tetap bahagia dan cukup istirahat saat tua nanti:-)
Beberapa tips berikut akan membantu Anda mulai merencanakan keuangan keluarga. Menjadikan rencana keuangan keluarga sebagai bagian dari rutinitas bukanlah hal yang terlalu sulit. Tapi mulai melakukan perencanaan adalah hal tersulit. Tips di bawah ini akan memotivasi Anda merencanakan keuangan keluarga.
Tips #1 Bayar Tagihan/Cicilan
Tantangan utama rencana keuangan keluarga adalah cicilan, terutama cicilan kartu kredit. Tagihan-tagihan kartu kredit awalnya sedikit, namun menjadi besar hanya karena Anda lupa membayar tagihannya. Perencanaan keuangan artinya Anda membuat rencana dan membayar tagihan adalah gol pertama Anda.
Tips #2 Lakukan Investasi
Tips lain adalah segera lakukan investasi. Perencanaan keuangan keluarga berarti Anda menyisihkan sebagian penghasilan Anda. Investasikan uang Anda di saham, reksadana, properti, deposito, atau gabungan di antaranya. Menginvestasikan sebagian penghasilan Anda pada tempat yang tepat akan mengembangkan uang Anda.
Tips #3 Jangan Besar Pasak daripada Tiang
Pengeluaran Anda TIDAK BOLEH lebih besar daripada penghasilan. Ini adalah hal yang paling sulit dimengerti, bahkan kadang orang menutup mata akan hal ini. Yang harus diingat rencana keuangan yang telah Anda susun jangan kalah dengan napsu konsumerisme. Ingat, mengatur pengeluaran agar lebih kecil dari pendapatan adalah bagian dari perencanaan keuangan keluarga.
Tips #4 Budget
Selalu tuliskan budget Anda. Membuat budget adalah bagian terpenting dari perencanaan keuangan keluarga. Dengan menulis dan melaksanakan budget yang telah disusun akan membuat menabung menjadi tidak terlalu sulit.
Selamat menyusun rencana keuangan Anda!
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 7:47 AM
Sunday, April 8, 2007
Mengatur pengeluaran untuk Perawatan Tubuh
Setelah menikah, seringkali seorang wanita mengindahkan kebutuhannya akan merawat tubuh (apalagi yang sebelum menikah termasuk golongan yang kurang telaten merawat diri). Padahal perawatan diri, bagi seorang wanita itu sangat penting. Jangan katakan Anda tidak punya waktu atau anggaran:-)
Aturlah pengeluaran Anda, agar dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri. Cari tips dan trik yang murah untuk merawat diri. Merawat diri (baca: sesekali memanjakan diri) merupakan stress relieving activity.
Pengeluaran seputar kebutuhan perawatan tubuh dapat dibagi menjadi:
Produk perawatan diri
Perawatan wajah
Perawatan rambut
Perawatan tubuh
Produk penampilan
PRODUK PERAWATAN
Untuk mengatur pengeluaran, sebaiknya Anda membuat anggaran yang akan keluarkan. Buat list terperinci seputar produk perawatan yang Anda gunakan. Misalnya: Susu pembersih dan penyegar wajah. Jika Anda membersihkan wajah, dua kali sehari, mungkin Anda akan menghabiskan 1botol sebulan. Demikian halnya dengan sabun mandi, setiap bulannya mungkin Anda akan membeli sabun mandi karena pemakaiannya yang rutin setiap hari.
Buat daftar produk yang Anda gunakan selengkap-lengkapnya, sehingga Anda memiliki gambaran, berapa yang Anda habiskan untuk produk perawatan diri selama sebulan.
PRODUK PENAMPILAN
Hampir setiap hari, kita dibanjiri informasi mengenai produk-produk yang meng-klaim dapat mempercantik Anda. Bukan sekali-dua, Andapun tergiur untuk mencoba produk tersebut. Hal inilah yang seringkali menyebabkan pengeluaran Anda membengkak. Seringkali wanita mudah tergiur rayuan iklan ataupun pramuniaga yang sedang menjajakan produknya.
Yang paling penting
1. Anda harus dapat menentukan berapa besar anggaran bulanan untuk perawatan dan penampilan. Apakah 20%, 30% atau 40%, semuanya tergantung Anda.
2. Ingat, hanya beli produk yang Anda butuhkan. Baik itu lipstick, eye liner, ataupun foundation.
3. Disiplinkan diri Anda. Jangan mudah tergiur rayuan iklan.
MEMBUAT ANGGARAN
Untuk memudahkan pengaturan anggaran, buat list produk yang Anda gunakan.
Perawatan wajah:
Susu pembersih
Toner penyegar
Pelembab
Krim malam
Krim mata
Scrub
Masker wajah
Perawatan rambut:
Shampoo dan conditioner
Masker rambut
Hair Tonic/Vitamin rambut
Perawatan tubuh
Sabun mandi
Lulur
Hand & Body Lotion
Cologne
Produk penampilan
Alas bedak
Bedak
Lip liner
Lipstick (buat daftar warna yang telah Anda miliki dan Anda butuhkan)
Pensil Alis
Pemulas pipi
Maskara
Minyak wangi
Hair gel
Styling Mouse
Hair Spray
Kemudian tandai produk mana yang Anda gunakan tiap hari, atau hanya pada kesempatan tertentu. Selalu juga perhatikan masa pakai tiap produk, jangan membeli terlalu banyak produk yang masa pakainya singkat. Misalnya, Maskara lama masa pakainya hanya 6bulan setelah pertama kali digunakan.
Lihat artikel: Cara cerdik belanja Kosmetik
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 6:23 PM
Wednesday, April 4, 2007
Hemat Biaya Belanja Rumah Tangga
Siapapun Manager keuangan di rumah, beberapa tips ini akan membantu Anda menghemat uang belanja. Tulisan ini merupakan satu rangkaian dengan tulisan sebelumnya.
Belanja sendiri. Belanja dengan banyak orang hanya akan membuat struk belanja Anda semakin panjang. Aturan utama: selalu berpatokan pada list yang telah Anda buat sebelumnya.
Untuk barang-barang yang dipakai oleh seluruh keluarga, selalu beli ukuran besar. Selain menghemat uang belanja, sampah yang dihasilkanpun lebih sedikit.
Beli semua jenis bumbu dan rempah dalam jumlah kecil. Bumbu dan rempah yang disimpan dalam waktu lama akan kehilangan cita rasanya.
Rajin observasi, pasar swalayan mana yang sedang melakukan promo. Tiap pasar swalayan memiliki standar harga dan program yang berbeda. Pilih yang paling menguntungkan untuk Anda.
Jika membeli hasil bumi yang sudah dikemas dalam kantong plastik, contohnya apel, jerk atau kentang, timbang-timbang dengan menggunakan tangan Anda. Pilih yang paling berat:-)
Belanja dengan memikirkan bahan yang tersisa (Ini merupakan bagian dari perencanaan)
Manfaatkan waktu diskon yang diadakan oleh toko atau pasar swalayan. Beli produk yang sedang didiskon. Jangan lupa, manfaatkan juga diskon yang sering diadakan oleh bank-bank yang mengeluarka kartu kredit (tapi jangan lupa bayar. hehehe…)
Beli buah dan sayuran yang sedang musim. Harganya akan lebih murah dibandingkan dengan yang tidak sedang musim.
Jangan buang guntingyang sudah tumpul. Tajamkan dengan mengguntingannya beberapa kali pada sandpaper (amplas)
Gunakan t-shirt butut Anda sebagai lap. Rapikan dengan mengguntingnya.
Cuci pakaian yang terkena minyak dengan menggunakan cairan pencuci piring.
Selalu sediakan kain di dapur, untuk menghemat penggunaan tissue.
Artikel ini disarikan dari berbagai sumber: pengalaman pribadi, artikel di tabloid, majalah ataupun surat kabar.
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 2:35 PM
Saturday, March 24, 2007
APARTEMEN: Investasi atau Liabilitas?
Beberapa saat yang lalu di sebuah milis ibu-ibu berlangsung diskusi mengenai pros and cons-nya membeli apartemen dibandingkan membeli rumah.
Berikut ini adalah beberapa poin yang bisa saya simpulkan:
Harga sewa apartemen jelas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga sewa rumah
Peningkatan nilai, rumah lebih tinggi dibandingkan dengan apartemen
Umur bangunan. Lebih lama rumah, dibandingkan dengan apartemen.
Sebagai ilustrasi: Apartemen yang berumur di atas 15tahun lebih disarankan untuk dijual. Sedangkan rumah, dengan kondisi bangunan yang baik bisa sampai 30-40tahun dengan renovasi tidak menyeluruh. Atau jika kondisi bangunan sudah rusak parah, bisa dibangun ulang atau dijual dengan harga tanah yang juga punya peningkatan nilai.
Maintenance cost apartement jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rumah (jika dalam kondisi tidak berpenghuni)
Lokasi dan fasilitas apartement jauh lebih baik dibandingkan dengan rumah pada umumnya.
Dikatakan bahwa investasi apartemen bukan untuk long term (paling baik sekitar 10tahun)
Jika terjadi huru-hara atau kondisi force-majeure yang mengakibatkan kerusakan bangunan, investasi kita hilang dibutuhkan pengamanan berupa asuransi. Sedangkan, rumah, at least kita masih punya lokasi
Apartemen sebagai investasi atau liabilitas?
Keputusan ada di tangan Anda!!!
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 4:14 PM
Thursday, March 22, 2007
Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang (2)
Like father like son
Like mom like daughter
Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua
Peribahasa ini tampaknya berlaku hampir di setiap aspek kehidupan, termasuk pengelolaan keuangan pribadi ataupun keluarga.
Pernahkan Anda menyadari bahwa pola pengeluaran, pembelanjaan, dan investasi yang Anda lakukan saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pola pengaturan keuangan orang tua Anda.
Adalah tugas orang tua mengajarkan pada anak untuk memahami arti uang, anggaran belanja, investasi ataupun tabungan; konsep keuangan secara umum.
Apa yang bisa kita ajarkan pada anak? Definisi investasikah? Apa kita harus mengajarkan anak membuat neraca keuangan?
When the time comes, may be you should… **grin**
Caranya sedehana.
Ajak anak menyusun anggaran belanja keluarga.
Mengapa hal ini harus dilakukan? Agar anak dapat melihat pola belanja dan prioritas keuangan keluarga. Hal yang jadi pertimbangan, tentunya usia anak dan sampai sejauh mana anak perlu tahu rahasia dompet Anda:-)
Jalan yang paling mudah mengajarkan anak mengelola keuangan adalah dengan memberikan uang saku. Rentang dan besarannya tentunya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Tentunya uang saku yang berikan harus cukup memenuhi kebutuhan anak dalam rentang waktu yang telah disepakati; harian, mingguan, ataupun bulanan.
(note: saya mulai diberi uang saku mingguan oleh orang tua sejak kelas 5SD)
Apa saja yang dapat Anda ajarkan melalui pemberian uang saku ini:
- setiap usaha baik akan mendapatkan reward
- dibutuhkan anggaran untuk mengatur pengeluaran
- ada resiko/konsekuensi yang diterima sebagai akibat dari keputusan-keputusan yang mereka ambil
Tidak ada salahnya dengan memberi reward berupa uang jajan atau barang, jika anak telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Dari sini anak belajar bahwa diperlukan kerja untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Tidak ada kata terlalu dini untuk mengajarkan anak bekerja keras kan?
Ambil contoh untuk anak usia balita, jika mereka berhasil makan tanpa tercecer, kita dapat memberikan reward berupa uang receh untuk dimasukkan ke dalam celengan ayamnya.
Atau untuk kakak yang lebih besar. Jika mereka membantu Anda mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi tugasnya (mencuci piring) tanpa perlu diberi komando selama seminggu, tidak ada salahnya kalau Anda meluluskan permintaannya membeli vcd penyanyi favoritnya.
Selanjutnya dengan memberikan uang saku, kita dapat mengajarkan anak menyusun anggarannya 1minggu atau 1bulan ke depan. Berapa banyak yang dihabiskan untuk ongkos ke sekolah. Seberapa besar yang dapat mereka habiskan untuk jajan.
Dari sini, merekapun belajar akan konsekuensi dari setiap keputusan mereka. Jika mereka menghabiskan seluruh uang saku yang Anda berikan, tentunya anak Anda tidak bisa membeli komik lebih banyak dari jatah yang Anda berikan untuknya bulan ini.
Mengenalkan pengelolaan keuangan pada anak tidaklah lengkap, jika kita hanya menekankan pada pemasukan dan perencanaan/anggaran. Hal lain yang sama pentingnya adalah mengenalkan konsep tabungan.
Banyak anak yang tidak menangkap keterkaitan dari tiga hal tersebut. Tugas orang tualah untuk mengajarkan anak bagaimana memperlakukan uang untuk memenuhi kebutuhan harian, tabungan, dan investasi. Memberikan uang saku pada anak merupakan cara konstruktif mengenalkan ketiga konsep di atas.
Mengajarkan anak menyisihkan sedikit uang sakunya, secara sadar Anda telah mengajarkan pada mereka konsep tabungan dan investasi. Sebagai contoh (yang sedang saya lakukan), saat ini putri kecil saya (2,5tahun) sedang menunggu tabungan penuh sehingga dapat membeli sepeda yang diinginkannya.
Apa tidak terlalu kecil? Entahlah:-)
Tapi kami berharap dengan mengajarkannya menabung untuk mendapatkan sesuatu, anak kami belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan ada prosesnya; mengumpulkan uang, menunggu, dan menahan keinginan impulsif untuk sesegera mungkin memenuhi keinginannya.
Untuk anak yang lebih besar, tentunya bukan sekedar proses memasukkan uang ke dalam tabungan yang diperkenalkan. Harus lebih dari itu, misalkan anak harus dapat menahan diri untuk tidak jajan sebanyak biasa, sehingga uang sakunya dapat disisihkan untuk membeli sesuatu yang diinginkannya, baik itu komik kesukaannya atau barang-barang konsumtif yang lebih mahal.
Secara tidak sadar, anak juga belajar mengenai prioritas keuangan. Setelah kebutuhan hariannya terpenuhi, anak baru dapat menyisihkan uang sakunya untuk hal-hal lain yang tidak cukup penting.
Banyak cara mengajarkan anak mengenai konsep keuangan. Ini hanya salah satu cara, mungkin cara Anda sedikit berbeda. Jadi, mulai kenalkan konsep keuangan keluarga pada anak sekarang juga!
Happy Parenting:-)
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 7:01 AM
Wednesday, February 28, 2007
MENGAJARKAN ANAK MEMAHAMI NILAI UANG
“Aduh, kecil-kecil sudah tahu uang…” terkadang pendapat itu sering kita dengar jika ada anak yang sudah tahu dengan uang berwarna apa ia bisa membeli sesuatu. Entah mainan atau makanan. Komentarnya terdengar agak miring, mengingat tidak pada tempatnya seorang anak kecil pandai ‘jajan’. Padahal, ungkapan itu bisa saja bernilai positif jika kita bisa membimbing anak-anak kita untuk lebih bisa memahami bagaimana membelanjakan uang dengan cara yang bijak dan pandai menyimpannya. Berikut adalah beberapa tips bagaimana membuat anak memperlakukan uang dengan cara bijak:
Sediakanlah celengan dengan bentuk yang unik. Perkenalkanlah aktifitas memasukkan uang ke dalam celengan sebagai kegiatan yang menyenangkan. Pada akhirnya nanti anda tidak bisa menaruh uang receh di sembarang tempat, karena pasti langsung raib dimasukkan ke dalam celengan oleh si kecil.
Ajak si kecil berbelanja. Biarkan mereka melihat cara kita berbelanja dengan disiplin pada catatan. Nantinya mereka akan mengerti, bahwa dengan berpegangan pada catatan, kita belajar untuk tidak ‘lapar mata’.
Perkenalkan suasana bank. Ajak mereka menabung di bank, sehingga mereka tahu, bahwa tempat menabung tidak hanya di celengan. Bahkan dengan suasana bank yang relatif asing tapi nyaman, mereka akan merasakan suasana baru yang menyenangkan saat menyimpan uang.
Saat anak menginginkan suatu mainan, buatlah mereka berfikir bahwa mereka harus mengumpulkan uang. Berilah mereka uang jajan, dan ajak mereka membuat suatu pilihan, apakah akan memuaskan nafsu sesaat dengan jajan, atau mau mengorbankan kesenangan sesaat itu dengan menabung, demi dapat membeli mainan.
Pada akhirnya, semua berpulang kepada kita sebagai orangtua, apakah kita mau memanjakan anak kita dengan segala kemudahan hidup, atau mau sedikit menahan diri demi menjadikan anak kita bijak memandang hidup.
Labels: keuangan keluarga
posted by Dini Indah @ 10:55 PM
Friday, February 16, 2007
Keuangan Keluarga: Mari Berhemat!!! (Bagian satu)
Banyak orang berpikir hemat itu, benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Awalnya pun, saya berpikiran yang sama. Tapi ternyata banyak hal di sekitar kita yang bisa dimulai sebagai proyek hemat:-)
Saya mulai dengan beberapa hal yang saya lakukan ya…
Membuat Daftar Belanja bulanan
Ketimbang harus belanja tiap minggu, atau setiap stok habis… Ada baiknya jika kita melakukan belanja reguler. Bulanan atau dua mingguan.
Sebelum belanja, selalu gunakan catatan. Ide klasiknya adalah berusaha disiplin dengan daftar belanja yang kita buat. Dengan adanya daftar belanja, kalaupun melenceng, tidak terlalu jauh… ketimbang belanja tanpa daftar.
Hal lain yang saya lakukan adalah tidak melakukan penimbunan terlalu banyak:-)
Misalnya dalam 1 bulan, kami sekeluarga membutuhkan 1tube besar pasta gigi. Di dalam lemari stock, saya selalu menyediakan 1tube sebagai stok.
Jadi, untuk beberapa barang… jika dalam lemari jumlah persediaan adalah 1, artinya harus membeli.
Merencanakan menu satu minggu.
Dengan merencanakan menu keluarga untuk satu minggu, kita akan lebih mudah dan irit ketika belanja.
Memasak untuk keluarga, kadang menjadi beban tersendiri bagi seorang ibu. Saran saya, ketika merencanakan menu satu minggu… Olah-lah bahan-bahan mentah seperti ikan, ayam, atau daging menjadi menu siap masak.
Kebiasaan saya setiap habis belanja, semua bahan mentah saya potong2 sesuai dengan rencana menu, dan dimasukkan dalam plastik untuk menu satu kali masak. Jika memungkinkan langsung saya beri bumbu, sebelum dimasukkan ke dalam freezer.
Beralih ke produk yang lebih ekonomis
Terkadang, kita sebagai konsumen tergiur untuk membeli produk-produk yang iklannya ditayangkan di media. Padahal, produk yang melakukan iklan besar2an… bisa dipastikan harganyapun lebih tinggi.
Tidak ada salahnya jika kita beralih ke produk2 non-premium untuk beberapa kebutuhan rumah tangga. Beda harga produk ini mungkin hanya beberapa ratus rupiah, tapi itupun penghematan kan?
Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, sesuai dengan pepatah lama:-)
Beli dalam kemasan besar
Produk-produk rumah tangga, biasanya tersedia dalam beberapa kemasan. Produk dengan kemasan jumbo, harganya sedikit lebih murah dibandingkan dengan produk dengan kemasan standard
Gak perlu malu untuk menghitung harga per 100gr atau per piece tiap produk untuk membandingkannya. Untuk hal ini, biasanya saya minta tolong suami
Jangan fanatik pada satu merk (kalau bisa…)
Suami saya sering bilang… “Kalau semua konsumen seperti kamu, pasti banyak perusahaan yang bingung mencari target market”
Kenapa beliau berpendapat demikian?
Saya tidak fanatik dalam membeli diaper untuk anak:-) Menurut saya pribadi, saya cukup fanatik karena target saya hanya 3merk tertentu.
Hanya saja, jika bulan ini saya beli produk A, belum tentu bulan depan juga membeli produk yang sama. Bisa jadi B atau C. Tergantung produk mana yang sedang melakukan promo. Hihihi…
Next time saya akan menulis tentang cara hemat lain ya…
Selamat berhemat!!!
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 9:43 AM
KIAT MENAMBAH PENGHASILAN KELUARGA
Oleh: Eko Endarto (Perencana Keuangan)
Dikutip dari Majalah Bahana
Salah satu e-mail yang pernah saya terima dari pembaca Bahana menanyakan bagaimana caranya agar dia bisa mencari penghasilan tambahan, sementara dirinya dan keluarganya hidup pas-pasan sehingga tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha.
Masalah ini mungkin pernah terlintas di pikiran Anda. Saya mau berusaha dan mencari penghasilan tambahan, tapi bagaimana bila tidak punya modal? Apakah mungkin mendapatkan penghasilan tambahan tanpa keluar modal?
Jawaban:
TIDAK SELALU UANG
Semua orang pasti mengenal yang namanya Bill Gates, J.K. Rowling atau David Beckham. Mereka terkenal sebagai orang yang kaya di bidang masing-masing. Tetapi bagaimana mereka bisa sukses dan kaya? Saya yakin pasti Anda akan berkata Bill Gates kaya karena memiliki Microsoft, J.K. Rowling karena bisa menulis buku laris Harry Potter, dan David Beckham karena ahli dalam permainan sepak bola.
Mereka mendapatkannya bukan karena memiliki modal uang. Mereka bukan anak orang kaya yang mewariskan banyak uang. Bahkan J.K. Rowling adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang telah berkali-kali keluar masuk tempat kerja karena selalu tidak beres kerjanya.
Jadi, apa yang membuat mereka berhasil? Mereka memiliki sesuatu yang diberikan Tuhan yang membuat mereka berbeda dari yang lain.
Ada 4 langkah yang bisa Anda kembangkan:
Pergunakan Keahlian
Untuk mencari penghasilan tambahan, jangan terpaku dengan uang. Kita semua diberi kelebihan oleh Tuhan. Apa keahlian Anda? Kalau Bill Gates bisa membuat program, mungkin Anda pintar mereparasi atau membetulkannya. Kalau David Beckham pintar bermain bola, mungkin Anda ahli bermain tenis. Kenapa semua keahlian itu tidak dikembangkan? Ingat, keberhasilan mereka bukan karena memulainya dengan uang tapi dari keahlian yang mereka kuasai.
Jadi, langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah gunakan keahlian Anda.
Kembangkan Hobi
Punya hobi menarik? Kenapa tidak menjadikannya sebagai dasar untuk mendapatkan penghasilan? Seorang ibu di tempat saya tinggal sangat menyenangi bunga. Ia selalu merawat bunga-bunga tersebut dengan cermat sehingga bunga-bunga peliharaannya menjadi sangat indah dilihat. Tiap minggu ia mempersembahkan sebagian hasil kebunnya itu untuk menjadi bunga penghias altar gereja. Tanpa diduga, bunga itu menarik perhatian seorang pedagang bunga, dan saat ini ibu tersebut menjadi salah satu pemasok bunga di toko tersebut.
Jadi, langkah kedua adalah dengan memanfaatkan hobi.
Manfaatkan Aset
Mungkin Anda akan berkata bahwa saya tidak kaya sehingga tidak bisa menggunakan aset untuk menambah penghasilan. Tapi coba perhatikan apa yang ada di sekitar Anda. Tetangga saya memanfaatkan petak tanah 1×3m di depan rumahnya untuk berjualan nasi kuning. Apakah berhasil? Tentu saja. Sebab aset yang dia miliki hanya sebagai pendukung. Pelayanan, rasa, dan keramahan penjual menjadi nilai jualannya yang utama. Langkah ketiga yang bisa Anda gunakan adalah manfaatkan aset.
Manfaatkan Waktu
Waktu adalah kekayaan yang diberikan Allah. Kita semua diberikan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tapi, seberapa besar kita telah memanfaatkan pemberian Allah itu? Pergunakan waktu luang Anda. Kalau Rowling bisa menggunakan waktunya untuk mengkhayal dan kemudian menjadikannya sebuah buku, kenapa Anda tidak bisa? Kalau Beckham bisa menggunakan waktu luangnya untuk meningkatkan keahliannya bersepak bola, kenapa Anda tidak? Cobalah pergunakan waktu Anda dengan maksimal. Mengajar, melatih tenis atau mungkin menjadi broker, adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan.
Jadi, langkah keempat adalah maksimalkan waktu Anda
Akhirnya, mendapatkan penghasilan tambahan bukanlah masalah berapa besar uang yang harus dimiliki. Dengan keahlian, hobi, aset, dan waktu yang kita kelola dengan maksimal, penghasilan tambahan bisa kita ciptakan. Raja Salomo berhasil mengembangkan dan membesarkan kerajaannya bukan dari kekayaan, tapi dari hikmat yang dilimpahkan kepadanya. Anda pun bisa!
Selamat mencari penghasilan tambahan.
Labels: keuangan keluarga
posted by DeA Haryono @ 7:57 AM
Sunday, January 28, 2007
Saya Tidak Dapat Menabung Sekarang
Menabung. Adalah sebuah kata yang selalu kita dengar mulai kita masuk TK sampai kita punya anak di TK. Mungkin saat kita kecil, orangtua kita selalu mengingatkan bahwa dengan menabung kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Instrumennya tentu berkembang sesuai usia kita. Saya jadi ingat waktu kecil dulu punya celengan ayam yang dari gerabah. Lalu waktu saya SMP, saya mulai memberanikan diri masuk ke bank untuk mendaftar jadi nasabahnya karena iming-iming hadiah 1 milyar.
Tentu bukan jumlah yang kecil, sehingga saya yang waktu itu tidak mengerti gunanya kartu pelajar nekad tanya ke customer service untuk apply. Sayangnya… ditolak mentah-mentah karena yang saya punya cuma buku penghubung orangtua-guru!
Tapi tentunya sekarang saya sudah punya rekening di bank. Hanya yang saya belum punya…
hadiah 1 milyarnya!
Alasan utama kenapa kita harus menabung adalah karena kita masih hidup di dunia. Coba kalau sudah mati, apa kita masih perlu uang? Cuma tuyul yang mata duitan. Setan gentayangan juga nggak doyan uang.
Manusia tentu mengalami beberapa fase dalam kehidupannya. Fase saat tumbuh kembang, dewasa, tua, lalu mati. Saat kita beranjak dewasa, kita ingin punya uang untuk sekolah, beli sandang, pangan, rumah, mobil, perhiasan…semua untuk kenyamanan hidup. Harta dapat menghampiri selama badan masih sehat wal afiat. Saat kita tua, atau malah terkena kecelakaan dan penyakit, bukan uang yang mengejar kita, tapi malah kita yang mengejar uang. Kata orang, hidup seperti roda berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kita selalu merasa lebih siap untuk di atas ketimbang ada di bawah. Padahal hidup selalu menawarkan resiko sukses-gagal yang sama besarnya.
Berani sukses, berarti berani gagal. Lalu, bagaimana kita bersiap mengalami kegagalan atau krisis finansial di masa makmur? Tentunya dengan menyisihkan sebagian penghasilan untuk kita tabung. Hanya perlu diingat,ada beberapa strategi yang harus disusun agar sasaran kita menabung dapat tercapai. Di bawah ini ada beberapa tips yang dapat
anda praktekkan:
1. Susunlah rencana anda
Coba anda fikirkan, mau punya apa anda 3 tahun, 5 tahun, bahkan 20 tahun lagi? Apa yang ingin anda capai? Tulis dalam agenda anda
2. Sesuaikan penghasilan anda
Mimpi boleh tinggi, hanya perlu realistis. Sulit mewujudkan mimpi anda punya pesawat jet pribadi kalau income anda cuma 1 juta rupiah sebulan. Mungkin ideal jika anda bisa menyisihkan 50% penghasilan anda untuk menabung. kalau tak bisa, 5% pun jadi. Dan disiplinlah dengan mimpi anda
3. Bayarlah diri anda sebelum membayar orang lain
Anda seorang pribadi yang layak dibayar. Maka saat anda gajian, anda harus membayar diri anda sendiri sebelum uang anda lari ke kantong pengusaha supermarket, atau pengusaha butik. Masukkan uang itu ke rekening anda.
4. Pilih instrumen menabung sesuai target yang anda ingin capai, dan resiko yang sanggup anda tanggung
Saat ini instrumen menabung sudah sedemikian beragamnya. Ada yang di tabungan, deposito, emas,properti (tanah dan gedung), reksadana, dll. Dengan memecah uang anda, berarti anda juga membagi resiko dalam berinvestasi, sehingga tujuan anda dapat cepat tercapai.
5. Jangan lupa untuk berjaga-jaga dengan asuransi
Saat kita sakit atau tua dan tak berpenghasilan, instrumen yang ini akan sangat berguna.
6. Yang terpenting…mulai dari sekarang!
Makin cepat anda mulai, makin besar hasil yang anda dapat di kemudian hari. Percayalah, karena ini sudah hukum alam berinvestasi
Oke….selamat menabung!
Labels: keuangan keluarga
posted by Dini Indah @ 2:46 PM
Menjadi Menteri Keuangan di Rumah
Beberapa hari yang lalu, ada seorang kawan, sebut saja si Asri, datang berkunjung ke rumah. Awalnya sih sekedar melepas kangen sambil ngobrol ngalor-ngidul. Asri ini memang baru menikah 4 bulan yang lalu. Lepas bulan madu, dia dihadapkan pada masalah-masalah domestik yang sekilas tampak bukan hal yang besar untuk diributkan, tapi ternyata cukup bikin pusing kepala. Setidaknya kepala si Asri;-)
Ada masalah pengaturan tugas rumah tangga (mereka belum punya pembantu di rumah), masalah adaptasi kepribadian masing-masing, dan yang paling pusing adalah mengatur uang yang cuma segitu-segitunya.
Yang terakhir ini, total dibebankan semua ke Asri, karena sang suami setelah menyetorkan gajinya, cukup nggak cukup harus cukup. Memang mereka berdua bekerja, hanya Asri bingung, kenapa saldo akhir bulan selalu nol. Padahal mereka kan harus menabung untuk mencicil rumah, untuk persiapankelahiran bayi yang beberapa bulan lagi akan lahir, mencicil mobil, dan persiapan menabung untuk sekolah si kecil.
” Pusing aku, mbak…” Aku senyam-senyum aja mendengar curhatnya…. hal klasik yang sering kudengar. Tapi gara-gara itu, aku jadi pengen share ke orang-orang. Bukan untuk membuka aibnya si Asri ini.
Sekedar bahan perenungan, bahwa kadang tan pasadar kita mengambil jalan yang kurang bijak dalam hal keuangan, lalu akhirnya merasa sesak sendiri karena terbelit hutang ke sana-sini. Padahal hidup ini sendiri sudah susah lho. Ngapain ditambah susah dengan hadirnya cicilan-cicilan ini-itu?
Sebenernya hidup itu simpel kok. Nggak perlu kebanyakan gaya. Jalani aja semampu kita. Kalo kita mampunya nyicil rumah tipe 45, ngapain maksain diri untuk punya rumah di Pondok Indah?
Kalo kita mampunya punya motor, kok ngoyo pengen punya mobil?
Berdalih karena mereka dibutuhkan?
Coba ukur kantong kita, bakal bolong nggak kalo kita ambil cicilan-cicilan tsb?
Mau dianggap makmur? Mending dikira kere daripada dikira kaya.
Gaya butuh modal!
Trus, gimana dong caranya kita bisa mengatur uang di rumah?
Yang paling awal adalah, menganalisa pengeluaran rumah tangga bulanan.
Mana belanja yang penting, mana yang kurang penting, mana yang tidak penting. Misalnya, apa benar kalo nggak merokok rasanya pengen mati. Wah, bukannya kalo merokok malah cepet mati?
Atau anggaran makan di restoran. Perlu dilestarikan gak nih, kebiasaan makan di restoran, atau perlu diliburkan dulu untuk saat ini?
Atau tiba-tiba ada penawaran hp baru yang harganya kira-kira 3-5 jutaan. Diambil nggak ya? Sesuai nggak antara kebutuhan kita berkomunikasi dengan fitur yang tersedia? Kalo perlunya cuma terima telpon dan sms, ngapain punya hp yang ada fasilitas e-mail dan PDA?
Selanjutnya, buatlah pos-pos tabungan. Isi terlebih dahulu kantong andas ebelum mengisi kantong pengusaha supermarket, kantong pengusaha salon, kantong pengusaha butik. Malah bagus kalau anda bisa menganggap tabungan adalah “pos” yang harus dibayar awal. Kebanyakan orang berfikir,tabungan adalah pos yang bisa dibayar belakangan.
Percaya aja, kalau model berfikir anda begini, nggak akan pernah uang anda terkumpul di tabungan. Pepatah ‘bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’ memang masihberlaku.
Coba bayangkan, tanpa harus kerja, uang datang sendiri ke anda. Emang bisa? Kenapa nggak? Ini bukan sulap-bukan sihir kok. Mulailah berfikir untuk memiliki passive income, di mana uang datang tanpa anda harus bekerja.
Caranya gimana? Ya… kumpulkanlah aset. Aset, adalah hal-hal yang membuat kekayaan kita bertumbuh.
Rumah adalah aset? Hati-hati dengan pemikiran itu. Coba bayangkan, rumah besar berarti overhead besar. Perlu listrik berdaya tinggi, perlu pembantu lebih dari satu untuk membersihkan, PBB yang dibayarkan juga besar.Pokoknya semuanya serba besar. Tapi apakah ia mendatangkan uang lebih banyak?
Lalu juga, apakah mobil itu aset? Yang ini jelas bukan. Wong setiap tahunnya nilainya menyusut. Tapi itulah kita, biar dikira kaya dan sukses, bela-belain nyicil mobil. Milihnya yang harganya selangit, lagi. Bukannya tambah kaya malah tambah melarat…
Ternyata kita perlu lebih teliti lagi dalam menganalisa, mana yang membuat kekayaan kita bertambah, mana yang bikin kita bangkrut. Tidak ada salahnya kita mempelajari bermacam-macam investasi.
Contoh klasik investasi adalah tanah dan emas. Rumah atau bangunan bisa menjadi aset kalau kita gunakan, misalnya untuk membangun rumah kontrakan, yang jika dimanfaatkan, antara pemasukan dan biaya pemeliharaan, itu masih lebih besar pemasukan.
Contoh lain investasi adalah surat hutang, saham, reksadana. Kalau masih asing sama yang ini, tidak ada salahnya cari tahu kanan-kiri atau di media-media komunikasi. Tentunya setiap aset memiliki resiko kerugian juga. Maka dari itu, berusahalah untuk memvariasikan aset, sehingga resiko yang mungkin diterima juga tidak membuat kita bangkrut.
Intinya, kita juga perlu menahan emosi dan mendinginkan kepala untuk melihat lebih jelas lagi, langkah mana yang bijak agar keuangan rumahtangga kita bertumbuh positif setiap tahunnya.
Selamat menjadi menteri keuangan… (more…)
1 comment November 6, 2007
7 Pedoman Mengelola Uang
7 Pedoman Mengelola Uang
Tak perlu jadi pakar keuangan atau akuntan dulu untuk bisa mengelola uang. Anda pun bisa. Bahkan lebih oke!
Berpenghasilan sendiri atau tidak, sejumlah uang yang Anda terima setiap bulan harus dikelola dengan bijak. Sikap bijak seperti apa yang tepat? Tujuh kiat berikut membantu Anda mengelola keuangan keluarga lebih cermat. (more…)
Add comment November 6, 2007
Kiat Jitu Mengelola Keuangan Keluarga
Kiat Jitu Mengelola Keuangan Keluarga
Mengelola penghasilan dengan baik, masa depan keluarga Anda terjamin. Anggaran yang benar merupakan ‘kartu pas’ meraih jaminan itu.
Dana seringkali sudah ‘kering’ padahal tanggal gajian masih lama? Atau Anda bingung, dari mana bisa dapat dana untuk bayar uang pangkal TK si kecil yang berjut-jut itu? Mungkin pula Anda merasa sudah kerja keras, lebih dari 12 jam sehari, tapi belum juga ada hasil yang nyata. Sudahlah… sebaiknya periksa kembali apakah pengelolaan keuangan Anda sudah tepat? (more…)
Add comment November 6, 2007
Langkah Perencanaan Anggaran Keuangan Keluarga
Keluarga Andi dan istrinya Anita, keduanya bekerja. Dengan dual pendapatan, mereka dapat hidup layak. Perubahan timbul dengan semakin bertumbuhnya keluarga mereka, dari hanya satu anak terus bertambah menjadi tiga.
Masyarakat kita pada umumnya melihat bahwa anak adalah berkah dari yang Maha Kuasa. Tapi yang harus juga diperhatikan bahwa Anda harus menyiapkan berbagai kebutuhannya. Bila tidak ada perencanaan yang berkesinambungan khussunya perencanaan anggaran keluarga, akan sangat sulit untuk tetap dapat hidup layak tanpa gangguan permasalahan keuangan. (more…)
Add comment November 6, 2007
If you wanna be rich..
If you wanna be rich..
Saya mau sharing sebuah cerita, semoga bermanfaat dan memberi
masukan berharga bagi kita, bahwa kesuksesan dan keberhasilan itu
memang harus di perjuangkan dan tidak datang dengan tiba-tiba.
Silahkan menjawab pertanyaan dibawah sebagai awal dari sebuah
cerita…
Pertanyaan pertama : siapa yang MAU menjadi kaya ?
Semua orang pasti akan angkat tangan.
Pertanyaan kedua : siapa yang BERUSAHA utk menjadi kaya ? Hanya
sebagian saja yang angkat tangan.
Pertanyaan ketiga : Siapa yang SUDAH kaya ?
Jumlah yang angkat tangan lebih sedikit lagi.
Apa yang salah disini ?
Pada pertanyaan pertama, orang hanya ditawari saja suatu keadaan.
Tidak sulit, karena mereka tinggal bilang mau atau tidak. Pada
pertanyaan kedua, sudah menjurus ke tindakan yang akan anda lakukan
untuk mencapai pertanyaan pertama tersebut. Disini orang yang
menjawab positif tidak sebanyak di pertanyaan pertama. Macam-macam
penyebabnya. Mengapa ?
Orang mau kaya secara cepat, kalau bisa secara instan tanpa perlu
bekerja keras. Alasan kedua, mereka mau bekerja keras, tapi “not in
the right track” sehingga kerja keras mereka tidak membuahkan hasil
sesuai yang diharapkan. Alasan ketiga, mereka tidak tahu harus
memulai dari mana, alasan terakhir mereka merasa cukup hidup yang
biasa-biasa saja, tidak perlu terlalu ambisius.”Ora usah ngoyo”,
begitu kata orang jawa.
Pada pertanyaan ketiga adalah pada hasil, apakah hasil kerja anda di
pertanyaan kedua membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya orang yang
sudah berhasil di pertanyaan kedua yang bisa ikut angkat tangan
disini. Sebenarnya, gimana sih cara untuk menjadi kaya, terutama
secara mudah kalau bisa ? saya juga mau ^_^
Ada beberapa cara untuk kaya secara mudah. Yang pertama adalah lahir
sebagai anak orang kaya. Jadi berbahagialah anda yang lahir dengn
nama belakang Onasis dan Hilton. Karena begitu lahir anda cukup
angkat tangan untuk menjawab pertanyaan ketiga saja.
Yang kedua adalah Kawin dengan anak orang kaya. Namun apabila anda
sudah menikah dan tidak mendapatkan “kesempatan” ini, anda bisa
dengan cara ketiga, yaitu mempunyai menantu orang kaya. Masih ada
beberapa cara lain, namun yang berikut lebih mengandalkan dewi
fortuna, misalnya anda menang undian atau dapat warisan mendadak
dari keluarga. Kalau dari semua cara tersebut anda tidak berhasil,
berarti anda memang harus menggapai melalui jalur kerja keras.
Cara ketiga yang menarik dan Halal. Bertemu dengan orang yang tepat.
Kerja keras (hard work) saja tidak menjamin orang menjadi kaya.
Perlu juga di imbangi dengan kerja cerdas (smart work). Orang yang
tepat adalah orang yang bersedia menjadi mentor kita, serta mau
membimbing kita. Tentunya dia sendiri juga sudah kaya, jadi
bimbingan yang diberikan bukan cuma teori saja, tapi juga
pengalaman. Pengalaman itu mahal harganya, karena dengan belajar
dari pengalaman orang lain anda akan terhindar dari “lubang jebakan”
kegagalan.
Dalam kehidupan sehari-hari ini, seperti apa sih orang yang tepat
itu ? tidak mudah memang menemukan orang yang tepat. kalaupun
misalnya anda sudah ketemu denga orangnya. belum tentu juga dia mau
membimbing anda. Orang yang tepat tidaklah selalu membimbing anda
secara langsung, bisa juga teknik, sistem, prinsip, kisah sukses
orang lain, tokoh idola, maupun suatu kebijaksanaan (wisdom).
Tidak usah berfikir terlalu rumit, mulailah dari sekitar anda saja.
Adakah suatu kebijakan atau seseorang yang sudah sukses yang bisa
anda contoh ? kalau ada cobalah untuk mengamati bagaimana proses
yang dia lakukan selama ini.
Lalu bagaimana mengetahui bahwa prinsip atau mentor yang akan kita
contoh itu tepat? Just Do It, seperti kata Nike.Lakukan saja. Dan,
jangan pula takut gagal, karena kita akan lebih banyak belajar dari
kegagalan daripada keberhasilan. tidak ada kesuksesan tanpa
kegagalan ataupun pengorbanan. Kita bisa belajar banyak dari mentor
ataupun pengalaman orang -orang sukses bagaimana mereka mencapainya.
Semoga Bermanfaat ^_^
Add comment November 1, 2007
MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA
MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA
Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan uang. Masyarakat Indonesia merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kami merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Kami sangat percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga berpotensi menimbulkan permasalahan.
Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Kalangan ini pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.
Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa Anda pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.
1. Uang bersama dan Sistem Amplop
Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk ‘menampung’ sisa amplop setiap bulannya.
2. Membagi Berdasar Persentase
Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing “menyetor” 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.
3. Membagi Tanggung Jawab
Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan “berat”, seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.
Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.
Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?
Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?
Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja regular bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manejer dalam sebuah perusahaan.
Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.
Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama
Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.
Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.
Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.
Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.
Demikianlah ulasan singkat seputar uang dalam kaitannya dengan hubungan suami istri di dalam keluarga. Semoga memberikan masukan dan tambahan ilmu bagi Anda
1 comment November 1, 2007
